Hujan November

401353_336363926392208_100000558114119_1258202_2084234560_n

Karya : Esa Fama

”Namun kerinduan tinggal hanya kerinduan, anakmu sekarang banyak menanggung beban” – Ebiet g ade

04 November, tepatnya pukul 18:53, itu lah catatan yang sempat ia tulis di sosial media nya. Namanya catur, anak ke-empat dari 5 bersaudara. Seorang anak yang tampan dan baik hati, itu lah kepribadian yang dapat menggambarkan sosok seorang catur. Menjadi seorang mahasiswa di salah satu universitas, membuatnya harus pergi merantau jauh dari keluarga.

Pada hari itu, ia mendengar kabar bahagia bahwa minggu depan tepatnya tanggal 11 November, ia akan mendapatkan liburan kuliahnya. Liburan kali ini merupakan liburan yang sangat ia tunggu – tunggu, karena sudah sejak lama ia tak pernah jumpa dengan keluarganya, khususnya ibunya, ibu yang telah membesarkannya yang sangat ia cintai. Ia telah merangkai sebuah mimpi untuk ibunya, jika ia sudah bekerja dan mendapatkan banyak uang, ia bercita – cita untuk menaik hajikan ibunya. Cita – cita nya memang sangat mulia, sesuai dengan watak dan kepribadiaannya.

Seminggu saat mendekati hari yang ia tunggu – tunggu, ia bertingkah sangat aneh dan kadang tak wajar, berkali – kali ia mengucapkan kata maaf kepada semua orang, khususnya orang – orang terdekatnya, dan terutama ibunya. Di setiap ia baru bangun dan hendak tidur, Ia tak pernah bosen untuk mendengarkan lagu favoritnya yang berjudul “Ibu”, lagu yang memiliki makna yang amat dalam terhadap seorang ibu.
“sebening tetesan embun pagi, secerah sinar nya mentari, saat ku tatap wajah mu ibu”
“jika ini ujian darimu, kuatkan aku wahai sang maha perkasa lagi maha penyayang.”
“Terimakasih teman. Walau tak mudah, kan aku lewati ini. Aku biarakn separuh jiwa ku terbang, karena masih ada kalian di sini. thanks to Allah for sending a friend like you”
Kata – kata ini lah yang dapat menggambarkan perasaan catur pada saat itu.

Di suatu malam, tepatnya pada tanggal 11 Juni, di dalam keheningan malam disaat orang – orang sedang berisitirahat, bercanda, tertawa, dan tertidur pulas, namun tidak baginya. Di malam itu, ia harus berjuang seorang diri untuk melawan dinginnya malam yang sedang diterpa hujan deras. Agar pulang ke rumah, ia rela melakukan perjalanan yang melelahkan demi menemui keluarganya dengan menggunakan sepeda motor milik temannya. Tidak ada yang menemaninya, yang ada hanyalah jalanan licin, batang – batang besar, cuaca yang dingin, dan rasa takut yang terus membayanginya.

Di sebuah tikungan tajam, peristiwa itu pun terjadi. Insiden itu tidak dapat dihindari lagi, matanya yang rabun membuatnya kesulitan untuk melihat dalam jarak yang jauh, yang juga dibayangi oleh kegelapan malam dan jalan yang amat sangat licin membuatnya terjatuh dalam kecepatan yang tinggi. Dia terjatuh, tak ada seorang pun yang membantunya, disaat detik detik akhir kehidupannya ia hanya ditemani oleh segumpal darah yang mengalir, bebatuan, dan daun – daun basah disekelilingnya.Sakit, perih, sedih, tak berdaya, mungkin hanya ia yang merasakannya pada malam itu, raganya seakan ingin menjerit namun tak bisa, dan akhirnya ia memejamkan matanya untuk selama – lamanya.

30 menit kemudian, ia ditemukan oleh masyarakat di sekitar sana, polisi pun langsung menuju tempat kejadian perkara dan menghubungi nomor keluarga yang masih tersimpan di handphonenya. Kabar itu pun datang, keluarganya yang telah lama menanti kehadirannya tiba – tiba dikejutkan oleh kabar yang mengatakan bahwa anak mereka telah meninggal dunia. Seakan benar – benar tak percaya bahwa catur telah meninggal dunia, keluarga nya pun masih menunggu kepastian akan kebenaran kabar burung tersebut.

Suara ambulance muncul dari kejauhan dan semakin membesar, namun tiba – tiba suara itu menghilang tepat di depan rumah keluarga catur. Keluarganya pun langsung bergegas menuju mobil tersebut untuk melihat jasad anak mereka. Tangis pun tak bisa dihindari setelah melihat anak mereka telah terbujur kaku di dalam mobil, sang ibu pun sangat tidak percaya bahwa anaknya telah meninggalkan dia untuk selama – lamanya. Waktu telah menunjukkan pukul 12 malam, namun kabar berita ini cepat sekali tersebar, keluarga besar pun langsung bergegas menuju rumah korban.

Jasad catur akan dimakamkan besok pagi karena waktu dan keadaan yang tidak memungkinkan untuk melakukan pemakaman saat itu juga. Di saat proses pemakaman berlangsung, semua proses pelaksanaan pemakamannya berlangsung secara baik, banyak sekali orang yang terlihat ingin membantu, air mata tak henti mengalir dari rekan dan sahabat catur, karena catur dikenal sebagai anak yang baik dan bijaksana.
“Dia meninggal dalam sunyi,
melintasi malam berkendara sendiri,
saat sakratul maut pun tak ada kami yang mendampingi,
hanya jalanan licin lubuk batang menjadi saksi bisu sunyi”
Satu bait puisi yang dibuat oleh keluarga catur

About these ads
Categories: Short Story (Indonesia) | 4 Comments

Post navigation

4 thoughts on “Hujan November

  1. kk lahir 4 november loh :p kk tiara juga :)

  2. oke kak :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: